Posts Tagged ‘penyimpanan’

PENYIMPANAN BAHAN PAKAN

PENDAHULUAN
LatarBelakang
Suatu industri pakan, khususnya industri dalam skala besar, komponen pergudangan atau penyimpanan bahan baku pakan atau pun ransum merupakan aspek yang sangat penting untuk diperhatikan. Industri pakan skala besar melakukan proses poduksi dalam jumlah yang banyak dan waktu penyimpanan yang cukup lama. Jika pakan jumlahnya banyak, dan tidak habis sekali pakai, namun pemakaiannya bertahap, maka kestabilitasan barang tersebut harus dapat dijaga untuk menjaga kualitas. Hal ini tentunya membutuhkan sistem pergudangan dan penyimpanan yang efektif untuk bahan baku serta produk jadi yang diproduksi tersebut.
Dalam proses penyimpanan, setiap bahan dan produk jadi tersebut akan berpeluang terjadi kerusakan. Kerusakan tersebut dapat berupa kerusakan fisik ataupun kerusakan kimia dan biologis. Kerusakan fisik dalam penyimpanan bisa saja menjadi pemicu untuk kerusakan secara kimia dan biologis. Oleh sebab itu, sifat fisik suatu bahan sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu sebelum dilakukan penyimpanan terhadap bahan. Sifat fisik bahan tersebut meliputi kadar air, berat jenis, aktivitas air, sudut tumpukan, kehalusan bahan, kerapatan tumbukan, kerapatan pemadatan bahan, dan lain sebagainya.
Teknik penyimpanan bahan baku pakan atau pun ransum produk jadi dapat dilakukan dalam betuk curah ataupun dalam karung. Pada penyimpanan dengan menggunakan karung, metode penumpukan sangat penting untuk diperhatikan. Masing-masing kunci pada penumpukan karung mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui sifat fisik, serta suhu dan kelembaban selama penyimpanan bahan baku pakan, berupa bungkil inti sawit, bungkil kelapa, bungkil kedelai dan ampas kecap, serta mengatahui teknik penumpukan pada karung/ kemasan dari masing-masing bahan baku pakan tersebut.

TINJAUAN PUSTAKA
Kerapatan Tumpukan (Bulk Density)
Kerapatan tumpukan adalah perbandingan antara berat bahan dengan volume ruang yang ditempatinya dan satuannya adalah kg/m3 (Khalil, 1999a). Kerapatan tumpukan memiliki pengaruh terhadap daya campur dan ketelitian penakaran secara otomatis seperti halnya dengan berat jenis. Sifat fisik ini memegang peranan penting dalam memperhitungkan volume ruang yang dibutuhkan suatu bahan dengan berat jenis tertentu seperti pada pengisian alat pencampur, elevator, dan silo. Nilai kerapatan tumpukan menunjukkan porositas dari bahan, yaitu jumlah rongga udara yang terdapat diantara partikel- partikel bahan.
Khalil (1999a) menyebutkan bahwa bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan rendah (500 kg/m3). Nilai kerapatan tumpukan berbanding lurus dengan laju alir pakan, semakin tinggi kerapatan tumpukan maka laju alir pakan semakin meningkat (Sing dan Heldman, 1984). Produsen lebih memilih bahan dengan kerapatan tumpukan tinggi apabila melakukan pengiriman jarak jauh karena dapat menghemat pengeluaran biaya pengemasan dan penyimpanan bahan.
Kerapatan Pemadatan Tumpukan (KPT)
Kerapatan pemadatan tumpukan (KPT) adalah perbandingan antara berat bahan terhadap volume ruang yang ditempatinya setelah melalui proses pemadatan seperti penggoyangan. Kapasitas silo, container dan kemasan seperti karung terletak antara kerapatan tumpukan dan kerapatan pemadatan tumpukan. Komposisi kimia bahan juga mempengaruhi sifat fisik, terutama terhadap nilai kerapadatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan dan berat jenis (Khalil, 1999a).
Kerapatan pemadatan tumpukan dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran partikel bahan pakan (Gautama, 1998). Kerapatan pemadatan tumpukan yang tinggi berarti bahan memiliki kemampuan memadat yang tinggi dibandingkan dengan bahan yang lain. Semakin rendah kerapatan pemadatan tumpukan yang dihasilkan maka laju alir semakin menurun (Rikmawati, 2005).
Berat Jenis (BJ)
Berat jenis juga disebut berat spesifik, merupakan perbandingan antara massa bahan terhadap volume, satuan berat jenis adalah kg/m3. Berat jenis memiliki peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan. Ransum yang terdapat bahan pakan dengan perbedaan berat jenis yang cukup besar, menghasilkan campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali. Berat jenis juga sangat menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis yang umum diterapkan pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran bahan dari silo untuk dicampur atau digiling (Kling dan Woehlbier, 1983). Berat jenis juga dipengaruhi komposisi kimia bahan (Gauthama, 1998).
Hukum Archimedes, yaitu suatu benda di dalam fluida, baik sebagian ataupun seluruhnya akan memperoleh gaya archimedes sebesar fluida yang dipindahkan dan arahnya ke atas (Khalil, 1999a). Pada penelitian Gautama (1998) memperlihatkan bahwa berat jenis tidak berbeda nyata terhadap perbedaan ukuran partikel karena ruang antar partikel bahan terisi oleh aquades dalam pengukuran berat jenis. Nilai berat jenis jagung dan hijauan menurut Gautama (1998) dan Soesarsono (1988) adalah 1312-1330 kg/m3 dan hijauan jauh lebih rendah 447,6-500 kg/m3 vs 1023-1363 kg/m3.
Kadar Air
Kadar air mempunyai pengaruh terhadap hampir semua karakteristik bahan baku seperti bentuk, tekstur, warna dan rasa. Kadar air dalam jumlah yang bervariasi dapat menjadi suatu masalah bagi bahan baku. Kadar air bahan baku yang tinggi dapat mendukung pertumbuhhan jamur yang menghasilkan beberapa jenis mixotoksin, sehingga dapat mempengaruhi lama penyimpanan. Hubungan antara kadar air, suhu, dan lama penyimpanan butiran-butiran dapat dilihat pada tabel. Makin tinggi kadar air bahan baku, makin berkurang daya tahan baku terhadap kerusakan.

Tabel. Hubungan antara kadar air dengan suhu dan lama penyimpanan
Suhu Penyimpanan (0F) Kandungan Air
15% 20% 25% 30%
75 116 12 4 3
70 155 16 5 4
65 207 21 8 5
60 259 27 10 6
55 337 35 13 8
50 466 48 17 10
45 725 75 27 16
40 906 94 34 20
35 1140 118 42 25
Sumber : Herrman dan Kuhl (1997)
Pengukuran kadar bahan baku dan ransum pada industri pakan ternak dapat dilakukan dengan pengeringan oven, metode distilasi, Near Infrared, dan Water Activity (Herrman, 2001b).
Water Activity (Aw)
Water Activity (Aw) merupakan ukuran air biologis dalam produk bahan makanan dan bahan pakan yang mampu mendukung pertumbuhan mikroba (Divakaran, 2003). Water Activity memberikan data stabilitas mikroba suatu produk yang disimpan. Air murni mempunyai Aw sama dengan satu dan produk-produk yang mengandung air mempunyai Aw berkisar antara 0.2 sampai 0.99 (DRINC, 2003).
Bungkil Kelapa
Bungkil kelapa adalah hasil sisa dari pembuatan dan ekstraksi minyak kelapa yang didapat dari daging kelapa yang telah dikeringkan terlebih dahulu. Sangat baik diberikan pada sapi perah sebab dapat meningkatkan kadar lemak susu sehingga meningkatkan kualitas susu. Pemberiannya tergantung pada berat badannya yaitu antara 1.5 – 2.5 kg/ekor/hari. Baik pula diberikan pada ayam dengan pemberian sampai +/- 25%. Untuk kuda juga dapat diberikan hanya dalam jumlah sedikit dan dicampur dengan gabah atau dedak, sebab apabila terlalu banyak dapat menyebabkan diare. Bungkil kelapa selain sebagai sumber asam lemak juga sebagai sumber Ca dan P meskipun kandungannya sedikit. Penggunaan bungkil kelapa seharusnya tidak lebih dari 20 % karena penggunaan yang berlebihan harus diimbangi dengan penambahan metionin dan lisin (tepung ikan) serta lemak dalam ransum. Kandungan protein dalam bungkil kelapa cukup tinggi yaitu 18 % , sedangkan nilai gizinya dibatasi oleh tidak tersedianya dan ketidakseimbangan asam amino. Komposisi nutrisinya adalah BK : 88,6%, Abu : 8,2%, PK : 21,30%, LK : 10,90%, SK : 14,2%, Beta-N: 45,4%, TDN : 78,7%, Ca : 0,165%, P : 0,616% (Puslitbangnak, 2008).
Bungkil kelapa merupakan limbah dari industri kelapa yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kualitas bungkil kelapa bervariasi bergantung pada cara pengolahan dan mutu bahan baku. Ditjen Perkebunan (2009) melaporkan, bahwa produksi kelapa pada tahun 2007 terjadi peningkatan, dibandingkan dengan produksi tahun 2006. Berdasarkan komposisi kimianya, bungkil kelapa termasuk sumber protein untuk ternak. Dalam pemakaian terutama untukk monogastrik perlu diperhatikan keseimbangan asam aminonya, karena bungkil kelapa kekurangan asam amino lisin dan histidin (Sukria, 2009)
Bungkil Kedelai
Berdasarkan SNI 01-2904-1996 bungkil kedelai adalah produk hasil ikutan penggilingan biji kedelai setelah ekstrak si minyaknya secar amekanis (Expeller) atau secara kimia (Solvent). Bungkil kedelai dihasilkan dari gilingan ampas kedelai setelah diambil seluruh minyaknya (Winarno, 1997). Komposisi nutrisi bungkil kedelai sangat beragam tergantung pada jumlah hull atau serpihan kulit ari (sekam) yang ditambahkan kembali ke dalam ampas kedelai serta sisa minyak yang masih tertinggal. Bungkil kedelai merupakan sumber protein dalam menyusun ransum ternak, bungkil kedelai memiliki nilai ekonomi tinggi bagi industri pakan ternak, bisa jadi merupakan ‘produk utama’ ataupun ‘limbah’ dari industri pengolahan kedelai (Sudarmadji, 1996).
Ketersediaan bungkil kedelai sangat ditentukan oleh produksi kacang kedelai sendiri. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (2011), produksi kacang kedelai di Indonesia mengalami peningkatan, dimana luas panen kedelai tahun 2007 sebesar 592.534 ton, dan meningkat pada tahun 2008 sebesar 775.710 ton. Sehingga dengan meningkatnya produksi kacang kedelai, kemungkinan besar bungkil kedelai akan terjadi peningkatan juga. Jumlah produksi kacang kedelai pada tiga daerah unggulan penghasil terbesar tahun 2008 terdapat di provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 277.281 ton, kemudian Jawa Tengah sebesar 167.345 ton, dan Nusa Tenggara Barat sebesar 95.106 ton.
Bungkil kedelai merupakan limbah dari industri minyak biji kedelai. Bungkil kedelai sangat disukai oleh ternak. Kandungan protein bungkil kedelai yang diperoleh dengan cara mekanik adalah 41 %, lemak 4,8%, kalsium 0,27%, phosphor 0,63%, serta mengandung serat kasar lebih rendah dibandingkan dengan bungkil biji kapas. Seperti biji kedelai, bungkil kedelai tidak kaya riboflavin tetapi kandungannya lebih tinggi dibandingkan dengan jagung dan butirannya. Penggunaan bungkil kedelai juga harus diperhatikan, karena zat penghambat trypsin mungkin masih tersisa (Sukria, H. A. dan Krisnan, R., 2009).
Berdasarkan SNI 01-2904-1996 bungkil kedelai adalah produk hasil ikutan penggilingan biji kedelai setelah ekstrak si minyaknya secar amekanis (Expeller) atau secara kimia (Solvent). Bungkil kedelai dihasilkan dari gilingan ampas kedelai setelah diambil seluruh minyaknya. Komposisi nutrisi bungkil kedelai sangat beragam tergantung pada jumlah hull atau serpihan kulit ari (sekam) yang ditambahkan kembali ke dalam ampas kedelai serta sisa minyak yang masih tertinggal. Bungkil kedelai merupakan sumber protein dalam menyusun ransum ternak, bungkil kedelai memiliki nilai ekonomi tinggi bagi industri pakan ternak, bisa jadi merupakan ‘produk utama’ ataupun ‘limbah’ dari industri pengolahan kedelai.
Bungkil Inti Sawit
Menurut Badan Pusat Statistik (2011), luas tanaman kelapa sawit terus mengalami peningkatan. Bungkil inti sawit merupakan hasil ikutan pada proses ekstraksi inti sawit. Bahan ini memiliki nilai gizi yang baik, mengandung asam-asam amino esensial dengan komposisi yang baik serta kandungan mineral relative lebih tinggi, kecuali seng, dibandingkan dengan jagung. Zat makanan yang terkandung didalamnya cukup bervariasi, protein kasar berkisar antara 16-19%. Kandungan serat kasarnya cukup tinggi, sehingga lebih tepat jika digunakan sebagai pakan tambahan pada ternak ruminansia seperti sapi perah dan kerbau. Pemberian bungkil inti sawit akan meningkatkan kandungan lemak susu, kekentalan keju, dan mutu daging (Sukria, H. A. dan Krisnan, R., 2009).

MATERI DAN METODE
Materi
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini meliputi Aw meter, Rika Moisture Meter, karung, penjahit karung, mistar, Vibrator Ball Mill, air, gelas ukur, pengaduk, plastik, timbangan digital, stopwatch, dan kuas. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah bungkil sawit, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dan ampas kecap.
Metode
Pemeriksaan kadar air dengan Rika Moisture Meter
Alat dibersihkan terutama tempat yang berhubungan dengan sample. Tombol adjuster diputar untuk pengaturan kalibrasi. Sample secukupnya diletakkan diata tempat sample lalu dimasukkan kedalam laci. Tombol untuk pembacaan skala diputas pada angka 19 untuk bahan dengan kadar air max 19% dan ke angka 30 untuk bahan dengan kadar air max 30%. Penekan dimasukkan ke dalam lubang tempat sample, lalu dimasukkan kedalam tempat sample. Setelah penekan dimsukan tekan sampai engenai sample dan memecah kulit sample bijian. Skala dibaca dan dicatat sebagai ukuran kadar air bahan. Perhatikan skala koreksi, jika batas pembacaan berada diatas angka 0 maka pembacaan skala ditambahkan dengan pembacaan skala koreksi tersebut, begitu juga sebaliknya. Dalam pergantian sample, bagian yang berhubungan dengan sample pada Rika Moisture Meter dibersihkan sampai kering.
Pengukuran Aktivitas Air
Aw meter dikalibrasikan dengan memasukkan cairan BaCl2, 2H2O teknis kedalam tempat sample. Alat Aw meter ditutup dibiarkan 3 menit sampai angka pada skala pembacaan Aw menjadi 0,9. Aw meter dibuka dan tempat sample dibersihkan. Sample dimasukkan dan alat ditutup, dan tunggu hingga 3 menit. Setelah 3 menit, skala Aw dibaca dan dicatat, perhatikan skala temperature untuk faktor koreksi, jika temperature pada skala menunjukan temperature diatas 200 maka pembacaaan skala Aw ditambahkan sebanyak kelebihan temperature dikali dengan faktor koreksi sebesar 0,0020. begitu pula dengan temperature dibawah 200.
Kerapatan Tumpukan (KT) (Khalil, 1999a)
Kerapatan tumpukan dihitung dengan memasukkan bahan dengan bobot tertentu ke dalam gelas ukur 500 ml. Bahan dimasukkan kedalam gelas ukur dengan menggunakan corong. Kerapatan tumpukan dinyatakan dalam g/ml dan dihitung dengan rumus:
Berat bahan (gram)
Kerapatan tumpukan =
Volume ruang yang ditempati (ml)

Kerapatan Pemadatan Tumpukan (KPT) (Khalil, 1999a)
Kerapatan pemadatan tumpukan ditentukan dengan cara yang sama dengan penetuan kerapatan tumpukan, tetapi volume bahan dibaca setelah dilakukan proses pemadatan dengan cara menggetarkan gelas ukur dengan tangan sampai volume konstan. Kerapatan pemadatan tumpukan dinyatakan dalam satuan g/ml dan dihitung dengan cara :
Berat bahan (gram)
KPT =
Volume ruang setelah dipadatkan (ml)

Sudut Tumpukan (°)
Pengukuran sudut tumpukan dilakukan dengan menjatuhkan bahan sebanyak 500 gram pada ketinggian tertentu (32,5 cm) melalui corong pada bidang datar. Sebagai alas karton digunakan kertas karton berwarna putih. Diameter tumpukan maksimal dua kali tinggi jatuhnya bahan. Sedangkan untuk mengukur tinggi dilakukan dengan bantuan mistar dan segitiga siku-siku. Volume bahan yang digunakan sebanyak 500 gram. Sudut tumpukan bahan ditentukan dengan mengukur diameter dasar (d) dan tinggi tumpukan (t). Besarnya sudut tumpukan dihitung dengan menggunakan rumus:
t
tgσ =
0,5d

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel Hasil Pengujian Sifat Fisik Beberapa Bahan
Pengujian Bungkil Sawit Bungkil Kedele Bungkil Kelapa Ampas Kecap
Bau Kelapa Kedele Kelapa sangrai
Warna Coklat tua Krem kecoklatan Coklat tua
Tekstur Serbuk kasar Agak kasar Agak kasar
Kadar air (%) 11,09 14,5 17,6
Aktivitas air 0,792 0,72 0,681
Berat Jenis (gr/cm3) 1,333 1,36 1,225
Loose Bulk Density(gr/cm3) 0,549
0,655 0,464

Bulk Density (gr/cm3) 0,682 - -
Tapped Bulk Density(gr/cm3) 0,706 - -
Compacted Bulk Density(gr/cm3) 0,706 0,751 0,5
Sudut Tumpukan 38,238 0
19,22 0 29,9410
Serangga Tidak ada - -
Kehalusan (mm) 1,5973 3.98 3,26
Suhu (oC) 27 30 27.5
Kelembapan (%) 72 70 68

Pembahasan
Dalam mengolah suatu bahan pakan kita harus mengenal sifat fisik bahan yang akan digunakan. Untuk itulah maka kita melakukan uji kualitas fisik bahan pakan ini yang meliputi : organoleptik, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, tingkat kehalusan atau modulus of fineness dan daya ambang (Kling and Wohlbier, 1983 dalam Khalil, 1999) serta pengujian kadar air, aktivitas air (Aw), dan serangga. Sifat fisik ini berpengaruh pada lamanya waktu penyimpanan bahan, dimana penyimpanan dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan tempat penyimpanan. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing uji sifat fisik dari bungkil sawit, bungkil kedele, bungkil kelapa, dan ampas kecap yang dapat mempengaruhi penyimpanan bahan.
Bungkil Sawit
Bungkil sawit biasa digunakan dalam campuran ransum konsentrat baik untuk unggas maupun ruminansia. Bungkil inti kelapa sawit (Palm Kernel Meal/ PKM) adalah inti kelapa sawit yang telah mengalami proses ekstraksi dan pengeringan. Bungkil inti kelapa sawit dapat digunakan sebagai makanan ternak. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu bungkil sawit adalah air dan kotoran, asam lemak bebas, bilangan peroksida dan daya pemucatan. Sehingga perlu pengujian sifat fisik untuk penyimpanan bungkil sawit agar mutu tetap terjaga. Berdasarkan pengamatan bungkil sawit memiliki bau seperti kelapa, berwarna coklat tua, dan bertekstur serbuk kasar. Berdasarkan uji organoleptik, bungkil sawit harus disimpan ditempat yang jauh dari bahan baku pakan yang berbau tajam agar aroma tetap harum kelapa. Perlu diperhatikan pula, biasanya bahan yang berbentuk serbuk apabila penyimpanan dalam jangka waktu yang lama akan mengalami penggumpalan akibat aktivitas air disekitar bahan. Penggumpalan bahan berbentuk serbuk tersebut dapat mengindikasikan bahwa bahan tersebut sudah rusak dan mutunya berkurang. Pengujian selanjutnya yaitu pengukuran kadar air sebesar 11,09 % dan Aw sebesar 0,792. Kadar air adalah kandungan air yang terdapat pada bahan. Menurut SNI 01-0008-1987, bungkil kelapa sawit memiliki kadar air maksimum 7 %. Namun dalam pengukuran mencapai 11,09 % sehingga penyimpanan tidak boleh terlalu lama. Kadar air bahan baku yang tinggi dapat mendukung pertumbuhhan jamur yang menghasilkan beberapa jenis mixotoksin, sehingga dapat mempengaruhi lama penyimpanan. Makin tinggi kadar air bahan baku, makin berkurang daya tahan baku terhadap kerusakan. Sedangkan Aw adalah aktivitas air yang ada di sekeliling bahan. Aw juga perlu dipengaruhi agar tidak terus meningkat yang dapat menciptakan kondisi nyaman bagi mikroorganisme yang dapat mempengaruhi penurunan mutu bahan. Bahan pangan/ pakan yang mempunyai Aw 0.70 sudah dianggap cukup baik untuk disimpan, karena pada kondisi tersebut mikroba tidak dapat hidup. Dengan demikianpengeringan harus diusahakan agar Aw bahan kurang dari 0.70 agar bahan awet untukdisimpan (Supriyono, SP, 2003). Menurut DRINC (2003), Water Activity memberikan data stabilitas mikroba suatu produk yang disimpan. Air murni mempunyai Aw sama dengan satu dan produk-produk yang mengandung air mempunyai Aw berkisar antara 0.2 sampai 0.99. Maka dapat dikatakan bungkil sawit tersebut masih aman untuk disimpan jika dilihat dari aktivitas air.
Selanjutnya berat jenis bungkil sawit yaitu 1,333 gr/cm3 serta Loose Bulk Density, Bulk Density, Tapped Bulk Density, Compacted Bulk Density masing-masing sebesar 0.549 gr/cm3, 0.682 gr/cm3, 0.706 gr/cm3, dan 0.706 gr/cm3. Berat jenis (BJ) merupakan perbandingan antara massa bahan terhadap volume dan memegang peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan. Berdasarkan hasil perhitungan nilai berat jenis ternyata menunjukan nilai diatas 1 yang berarti lebih berat dari BJ air yaitu 1. Berat jenis memiliki peranan penting dalam berbagai proses pengolahan, penanganan dan penyimpanan. Ransum yang terdapat bahan pakan dengan perbedaan berat jenis yang cukup besar, menghasilkan campuran tidak stabil dan mudah terpisah kembali. Berat jenis juga sangat menentukan tingkat ketelitian dalam proses penakaran secara otomatis yang umum diterapkan pada pabrik pakan, seperti dalam proses pengemasan dan pengeluaran bahan dari silo untuk dicampur atau digiling (Kling dan Woehlbier, 1983). Berat jenis juga dipengaruhi komposisi kimia bahan (Gauthama, 1998). Khalil (1999a) menyebutkan bahwa bahan yang mempunyai kerapatan tumpukan rendah (500 kg/m3).Nilai kerapatan tumpukan berbanding lurus dengan laju alir pakan, semakin tinggi kerapatan tumpukan maka laju alir pakan semakin meningkat (Sing dan Heldman, 1984). Produsen lebih memilih bahan dengan kerapatan tumpukan tinggi apabila melakukan pengiriman jarak jauh karena dapat menghemat pengeluaran biaya pengemasan dan penyimpanan bahan. Kerapatan bungkil sawit relatif besar sehingga menghemat biaya penyimpanan bahan karena hanya membutuhkan waktu yang cepat dalam proses mengalirkan bahan. Begitu pula dengan kerapatan pemadatan tumbukan. Kerapatan pemadatan tumpukan yang tinggi berarti bahan memiliki kemampuan memadat yang tinggi dibandingkan dengan bahan yang lain. Semakin rendah kerapatan pemadatan tumpukan yang dihasilkan maka laju alir semakin menurun (Rikmawati, 2005). Sudut tumpukan bahan berkaitan juga dengan tekstur bahan, berat jenis dan kerapatan bahan. Sudut tumpukan dapat mempengaruhi pengisian tempat penyimpanan. Semakin besar sudut tumpukan maka bahan akan menepati ruangan penyimpanan semakin banyak. Sudut tumpukan bungkil sawit sebesar 38,238 0. Tingkat kehalusan bahan sebesar 1,5973 yang dikategorikan halus. Kehalusan bahan berhubungan tekstur bahan yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada saat pengujian kehalusan tidak ditemukan serangga yang tertinggal pada sieve.
Setelah bahan dilakukan pengujian sifat fisik, bungkil sawit dimasukan ke dalam karung. Bungkil sawit dimasukan ke dalam karung untuk disusun cara penyimpanan karung kunci 3, 4, 5, 6, dan bata mati. Selama seminggu penyimpanan karung diamati suhu dan kelembapan ruangan. Didapatkan data suhu dan kelembapan rata-rata selama seminggu adalah 27 oC dan 72 %. Suhu tersebut tidak terlalu jauh dengan suhu ruang normal 25 oC sehingga bahan belum berubah atau mengalami penurunan mutu setelah dilakukan penyimpanan selama seminggu. Begitu pula kelembapan tersebut belum mempengaruhi perubahan bungkil sawit selama penyimpanan. Penyimpanan dengan teknik kunci yang berbeda belum terlihat adanya perbedaan mutu bahan selama penyimpanan. Namun teknik kunci 5 dan bata mati yang banyak digunakan karena penyimpanan menggunakan sistem ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu fleksibel, modal investasi lebih kecil, biaya bongkar muat lebih murah, tidak terjadi migrasi uap air, penanganan secara semi mekanis dan pemeriksaannya lebih mudah.
Bungkil Kedele
Berdasarkan SNI 01-2904-1996 bungkil kedelai adalah produk hasil ikutan penggilingan biji kedelai setelah ekstraksi minyaknya secara mekanis (Expeller) atau secara kimia (Solvent). Bungkil kedelai merupakan sumber protein dalam menyusun ransum ternak, bungkil kedelai memiliki nilai ekonomi tinggi bagi industri pakan ternak. Bungkil kedele merupakan ‘produk utama’ ataupun ‘limbah’ dari industri pengolahan kedelai yang memiliki aroma kedele, berwarna krem kecoklatan, dan tekstur agak kasar. Tekstur bungkil kedele hampir menyerupai bungkil sawit namun ukurannya lebih besar. Kendala dalam penyimpanan bungkil kedele dengan tekstur tersebut sering terjadi penggumpalan apabila penyimpanan terlalu lama. Penggumpalan tersebut dapat menurunkan mutu bahan. Kadar air bungkil kedele 14.5% dengan aktivitas air sebesar 0,72. Berdasarkan SNI 01-2904-1996, kadar air bungkil kedele yaitu 12 %. Kadar air pada saat pengujian lebih tinggi dari standar sehingga perlu perhatian dalam penyimpanan bahan. Bungkil kedele tersebut tidak boleh disimpan terlalu lama. Aktivitas air masih dalam kondisi normal untuk dilakukan penyimpanan. Berat jenis bungkil kedele sebesar 1,36 gr/cm3 tidak terlalu banyak berbeda dengan bungkil sawit. Sedangkan kerapatan tumbukan sebesar 0,655 gr/cm3 dan kerapatan pemadatan tumpukan sebesar 0,751 gr/cm3. Kerapatan bahan juga tidak terlalu berbeda dengan bungkil sawit namun nilainya sedikit lebih tinggi. Hal ini menunjukan bungkil kedele memiliki laju alir lebih tinggi dari bungkil sawit. Bila dilihat dari sudut tumpukan, bungkil kedele memiliki sudut α lebih lancip dari bungkil sawit yaitu 19,220. Hal ini menunjukan bungkil kedele lebih rendah dalam menempati ruangan. Tingkat kehalusan bungkil kedele sebesar 3,98 mm. Ukuran bungkil kedele lebih besar dari bungkil sawit. Tingkat kehalusan berpengaruh pada berat jenis, kerapatan tumbukan, dan sudut tumbukan.
Selama seminggu bungkil kedele disimpan dalam karung dengan teknik penyimpanan yang sama pada bungkil sawit yaitu teknik 3, 4, 5, 6, dan bata mati. Selama penyimpanan suhu rata-rata ruangan selama seminggu yaitu 30 oC dan kelembapan 70 %. Dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu ruangan menyebabkan kadar air bahan dan aktivitas bahan relatif rendah, namun kelembapan cukup sedang. Selama seminggu penyimpanan belum terdapat perubahan sifat fisik secara uji organoleptik.
Bungkil kelapa
Bungkil kelapa adalah hasil ikutan yang didapat dari ekstraksi daging buah kelapa segar/ kering. Bungkil kelapa memiliki aroma menyerupai kelapa sangrai, coklat tua, dan agak kasar. Bungkil kelapa hampir menyerupai bungkil kelapa sawit untuk aroma dan warna, sedangkan ukuran menyerupai bungkil kedele. Sehingga dalam penyimpanan bungkil kelapa tidak berbeda jauh dari kedua bahan yang telah dijelaskan. Bungkil kelapa memiliki kadar air mencapai 17,6% dengan aktivitas air sebesar 0,681. Pada persyaratan mutu standar bungkil kelapa meliputi kandungan nutrisi dan batas tolerasi aflatoxin. Persyaratan mutu standar bungkil kelapa yang harus dipenuhi pada kadar air mutu I dan II adalah 12 %. Namun pengujian melebihi batas maksimum. Hal ini memperlihatkan waktu penyimpanan bungkil kelapa tidak dapat berlangsung lama, karena kadar air akan memicu timbulnya aflatoxin yang melebihi standar mutu pakan. Pada aktivitas air bungkil kelapa masih berada dalam kisaran angka normal untuk penyimpanan bahan. Bungkil kelapa ini memiliki berat jenis 1,225 g/cm³. Berat jenis bungkil kelapa tidak terlalu berbeda jauh dengan bungkil inti sawit dan bungkil kedele sehingga untuk penyimpanan dengan melihat berat jenis dapat disamakan. Kerapatan bungkil kedele 0,464 g/cm³ sedangkan kerapatan pemadatan bahan 0,5 g/cm³. Kerapatan bungkil kelapa relatif rendah dibanding dengan bungkil sawit dan bungkil kedele sehingga untuk laju alirnya juga lebih lama. Pada pengiriman yang jauh, kerapatan yang rendah mengakibatkan dalam pengolahan dan penyimpanan bahan menjadi kurang efisien. Sedut tumpukan bungkil kedele sebesar 29,9410, nilai ini berada diantara sudut tumpukan bungkil sawit dan bungkil kedele. Nilai kehalusan bungkil kelapa sebesar 3,259 hampir sama dengan ukuran bungkil kedele sehingga penyimpanan dapat disamakan jika dilihat dari tingkat kehalusan.
Penyimpanan bungkil kelapa juga dilakukan selama seminggu yang dikemas dengan menggunakan karung. Cara Pengemasan. Bungkil kelapa sebagai bahan baku pakan dikemas dalam wadah yang tidak mempengaruhi isinya dan tertutup rapat. Teknik penumpukan juga sama seperti penyimpanan bungkil sawit dan bungkil kedele. Suhu dan kelembapan rata-rata ruangan penyimpanan bungkil kelapa dalam karung masing-masing 27,5oC dan 68 %. Pada kondisi tersebut masih dalam kisaran suhu dan kelembapan normal, sehingga bahan akan tetap terjaga mutunya selama penyimpanan.
Sistem Penyimpanan
Penyimpanan bahan baku atau produk jadi jadi sangatlah penting khususnya industri skala besar. Karena dalam prosesnya, industri skala besar selalu berproduksi dalam jumlah banyak. Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadinya kekurangan pasokan bahan, atau menjaga stabilitas jumlah produksi diperlukan suatu penyimpanan. Volume bahan pakan yang disimpan berbeda-beda, semakin besar volume, teknologi penyimpanan semakin rumit. Bentuk bahan yang disimpan pun ada yang berupa bahan baku ataupun produk jadi. Jenis penyimpanan juga terdiri dari dua jenis, yakni jenis penyimpanan diam/ statis dan jenis penyimpanan bergerak, misalnya impor bahan pakan dengan kapal laut.
Teknik penyimpanan harus diperhatikan dengan baik karena kerusakan atau kehilangan dapat terjadi selama proses penyimpanan. Beberapa faktor yang menyebabkan kerusakan atau kehilangan tersebut yaitu perubahan kimia, perkembangan mikroorganisme, perkembangan serangga, serangan tikus, penggunaan wadah yang tidak baik, kondisi bahan yang tidak baik pengaruh lingkungan yang buruk dan kesalahan penanganan oleh manusianya sendiri. Metode penyimpanan dilakukan tergantung dengan tujuan penyimpanan.
Teknik penyimpanan tergantung dari bentuk bahan yang akan disimpan. Untuk bahan berupa biji-bijian ada 2 teknik penyimpanan yaknik dalam karung atau bentuk curah. Penyimpanan dalam betuk karung dilakukan dengan teknik penumpukan. Ada beberapa jeins penumpukan, yakni:
Kunci 3 Kunci 4 Kunci 5
Lapis 1
Lapis 1 Lapis 2 Lapis 1 Lapis 2 Lapis 1 Lapis 2
Kunci 6 Bata mati
,

Lapis 1 Lapis 2 Lapis 1 Lapis 2
Pada praktikum kali ini, penumpukan pada bahan baku pakan yang sudah dikemas tersebut, dilakukan dengan sistem kunci 3, 4, 5, 6, dan bata mati. Untuk sistem pengemasan dalam jumlah banyak, kunci 5, 6, dan bata mati sangat umum digunakan. Hal ini untuk menjaga keseimbangan tumpukan pada karung yang cukup banyak. Dibandingkan dengan sistem penumpukan kunci 5, bata mati terlihat lebih kokoh, karena berdasarkan penyusunannya, jenis tupukan yang berjejer akan membuat tumpuan lebih kokoh untuk lapisan di atasnya, lapisan ke dua pada bata mati juga dibuat berjejer dengan arah yang berbeda dari lapisan 1, hal ini sebagai penopang dan penyeimbang untuk lapisan atas berikutnya. Pada tumpukan bata mati ini, karena jenis tumpukannya berjejer sama peletakkannya, maka tidak ada ketimpangan salah satu berat yang tertumpu pada satu karung, tetapi masing-masing karung mempunyai tumpuan pada bagian yang sama. Sedangkan sistem penyimpanan kunci 5, penumpukan pada lapisan 1 ada yang berbeda arah peletakan karungnya, begitu pula pada lapisan 2. Sehingga jika dilihat terdapat sedikit space atau celah kosong pada setiap lapisan karena ketidaksamaan arah peletakan karung. Namun, pada sistem penyimpanan kunci 5 ini, kelebihannya tumpuan yang tidak semua satu arah tersebut, membuat setiap karung tumpukan tersebut ditopang secara bersama-sama oleh 3 karung bagian bawahnya, jadi beberapa bagian-bagian dari 3 karung di lapisan bawah, ada yang menopang satu karung bagian atas sehingga tidak mudah jatuh.
Untuk kunci 3 dan 4 umumnya diterapkan pada sistem penyimpanan karung yang jumlahnya tidak banyak karena beban penopang pada setiap lapisan hanya sedikit jumlahnya. Selain itu, kunci 3 dan 4 ini diterapkan pada ruangan yang tidak terlalu besar.
Sistem penumpukan karung dilengkapi dengan pallet. Fungsi pallet tersebut, selain sebagai alas atau hamparan, pallet juga membantu sirkulasi udara dan mencegah kerusakan lantai serta gesekan antar lapisan karung. Selain itu, pallet juga berfungsi untuk membantu dalam pemindahan dan memperkokoh bangunan tumpukan. Pallet yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah pallet kayu.

KESIMPULAN
Sifat fisik bahan pakan yang meliputi: organoleptik, berat jenis, kerapatan tumpukan, kerapatan pemadatan tumpukan, sudut tumpukan, tingkat kehalusan dan daya ambang, kadar air, aktivitas air (Aw), dan serangga akan berpengaruh pada lamanya waktu penyimpanan bahan, dimana penyimpanan dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan tempat penyimpanan. Penyimpanan bahan selama satu minggu dalam kisaran suhu dan kelembapan normal, belum menunjukkan perubahan mutu bahan pakan. Teknik penyimpanan tergantung dari bentuk bahan yang akan disimpan. Sistem pengemasan dalam jumlah banyak, kunci 5, 6, dan bata mati sangat umum digunakan. Kerapatan bungkil kelapa relatif rendah dibanding dengan bungkil sawit dan bungkil kedele sehingga untuk laju alirnya juga lebih lama. Kerapatan yang rendah mengakibatkan dalam pengolahan dan penyimpanan bahan.

LAMPIRAN
Bungkil Sawit
Hasil Pengujian
1. Uji Fisik (Organoleptik)
Bau  Kelapa
Warna  Coklat Tua
Tekstur  Serbuk Kasar

2. Kadar Air
Skala Pembacaan 12
Faktor Koreksi  -0,1
KA = 12 – 0,1 = 11,09

3. Aktivitas Air
Pembacaan Skala AW  0,77
Suhu  31oC
AW= 0,77 + 0,002 (31-20) = 0,792

4. Pengukuran Berat Jenis
Berat awal= 100 gram
Volume aquadest awal = 200 ml
Volume aquadest akhir = 275 ml
BJ= = = 100/(275-200) = 1,333
5. Pengukuran Loose Bulk Density (Kerapatan Bahan/Tumpukan)
Berat awal = 100 g
Volume ruang yang ditempati= 182,3 cm3
Loose Bulk Density (KB)= 0,549 gram/cm3

6. Pengukuran Bulk Density (Diputar)
Berat awal = 100 g
Volume ruang yang ditempati= 146,67 cm3
Bulk Density = 0,682 g/cm3

7. Pengukuran Tapped Bulk Density (Digoyang/digetarkan)
Berat awal = 100 g
Volume ruang yang ditempati= 141,67 cm3
Tapped Bulk Density = 0,706 g/cm3

8. Pengukuran Compacted Bulk Density (Ditumbuk/pemadatan)
Berat awal = 100 g
Volume ruang yang ditempati = 141,67
Compacted Bulk Density (KPB) = 0,706 g/cm3

9. Sudut Tumpukan
T= 7,88 cm
Rata-rata diameter= 20 cm
tg α = = 7,88/(0,5 x 20) = 0,788
α = 38,238 0
10. Serangga
Tidak terdapat serangga pada sampel bungkil sawit yang diambil
11. Kehalusan
Ukuran Partikel (berat awal 400 gram)
No Sieve No perjanjian Berat sieve dan Bahan %bahan x No. perjanjian
Kosong(g) Isi(g) Bahan
Gram %
4 7 445 445 0 0,000 0,000
8 6 394,6 395,8 1,2 0,305 1,828
16 5 354,6 365,1 10,5 2,666 13,328
30 4 336,7 434,6 97,9 24,854 99,417
50 3 299,2 460,5 161,3 40,950 122,850
100 2 279,4 399 119,6 30,363 60,727
400 1
Pan 0 254,7 258,095 3,395 0,862 0,000
Jumlah 393,895 100 298,151

Modulus of Fineses = (∑(% bahan x nomor perjanjian))/100
= 393,895/100
= 3,939
Modulus of Uniformity = (∑(% bahan sieve no.7+6+5))/10 ∶ (∑(% bahan sieve
no.4+3)/10 ∶ (∑(% bahan sieve no. 2+1+0))/10
= 0,2971 : 6,5804 : 3,1225
= C : M : F
Rataan Ukuran Partikel = 0.0041 x 2 MF x 2.54 x 10 mm
= 1,5973mm
Data pengamatan pengukuran median particle size (D50) Mesh
No. Seive D (micron) Log di Wi x Log di (Log di – Log Dgw) Wi (log di – log Dgw)2
4 4760 3,6776 0,000 1,087 0,000
8 2380 3,5271 4,233 0,937 1,053
16 1000 3,1883 33,477 0,598 3,752
30 548 2,8694 280,914 0,279 7,612
50 289 2,5998 419,348 0,009 0,014
100 149 2,317 277,113 -0,274 8,950
400 37 1,87 -0,721
Pan 1,5682 5,324 -1,022 3,549
Jumlah 1020,409 24,929

Log Dgw =
= 1020,409/393,895
= 2,591
Dgw = D50
= 389,942 mikron
= 0,0389942 cm
(Log Sgw)2 =
= 24,929/393,895
= 0,0633
Log Sgw = 0,2516
Sgw = 1,7848 mikron
= 1,7848 x 10-4 cm
βs = 6,
βv = 1,
ρ = 1,333 g/cm3
Keterangan Sgw dan Dgw dalam mikron
Ni = 1/ρβv exp [4,5 (ln Sgw)2 – 3 (ln Dgw)]
= 1/(1 x 1,333) exp [4,5 (ln 1,7848)2 – 3 (ln 389,942)]
= 0,7502 exp [4,5 (0,3356) – 3 (5,9670)]
= 0,7502 exp [-16,3908]
= 5,7114 x 10-8partikel
SA = βs/ρβv exp [0,5 (ln Sgw)2 – (ln Dgw)]
= 6/(1 x 1,333) exp [0,5 (ln 1,7848)2 – (ln 389,942)]
= 4,5011 exp [0,5 (0,3356) – (5,9670)]
= 4,5011 exp [-5,7992]
= 0,0136 cm2/g

Data Suhu dan Kelembapan selama 1 Minggu
Tanggal Pagi Siang Sore
Suhu Kelembapan Suhu Kelembapan Suhu Kelembapan
1 Nov’11 25,9 85 27,6 81 28,0 74
2 Nov’11 25,9 84 29,4 67 28,1 74
3 Nov’11 26,0 84 28,3 74 28,2 70
4 Nov’11 26,1 84 28,1 73 26,7 57
5 Nov’11 24,8 74 28,0 59 26,7 70
6 Nov’11 25,6 77 27,8 64 28,1 59
7 Nov’11 25,5 72 29,3 69 29,6 56

Bungki Kedele
1. Aroma : kedelai
2 Warna : krem kecoklatan
3 Tekstur : agak kasar
4 Kadar air : 14.5 %
5 Aw : 0.72, suhu bahan : 32 C
6 Berat jenis : 1.36 g/cm3
7 Kerapatan : 152,73 g/cm3
8 KPT : 133.1 g/cm3
9 Sudut tumpukan : 19.22 0
10 Derajat kehalusan : 3.98
11 Suhu ruang : 30 C. RH : 70%
No Sieve No Perjanjian Berat sieve (g) Bahan %bahan x no. perjanjian Derajat Kehalusan
Berat (g) %
4 7 445 5.84 1.35 9.45
8 6 394.6 79.92 18.48 110.90
16 5 354.7 90.94 21.03 105.16
30 4 299.1 135.44 31.32 125.30
50 3 336.6 37.22 8.61 25.82
100 2 279.3 46.93 10.85 21.71
400 1 274.3 0 0 0
Pan 0 255.4 36.1 8.35 0.00
Jumlah 432.39 398.34 3.98

Bungkil kelapa
Aroma : kelapa sangrai
Warna : coklat tua
Tekstur : agak kasar
Sudut tumpukan Kadar air (%) Aw Berat jenis (g/cm³) Kerapatan bahan (g/cm³) Kerapatan pemadatan bahan (g/cm³) kehalusan Uk partikel
29,9410 17,6 0,680667 1,225333 0,464267 0,500667 3,25865 1,007667
Keseragaman : 8,2 : 24,5 : 2, 82

Data Suhu dan Kelembapan selama 1 Minggu
Tanggal Pagi Siang Sore
Suhu Kelembapan Suhu Kelembapan Suhu Kelembapan
3 Nov’11 26,0 84 28,3 74 28,2 70
4 Nov’11 26,1 84 28,1 73 26,7 57
5 Nov’11 24,8 74 28,0 59 26,7 70
6 Nov’11 25,6 77 27,8 64 28,1 59
7 Nov’11 25,5 72 29,3 69 29,6 56
8 Nov’11 26,7 74 29,4 59 30,5 54

DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2011. Produksi Kacang Kedelai. http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=53&notab=11 [101111].
Ditjen Perkebunan. 2009. Produksi Kelapa Sawit. www.ditjenbun.deptan.go.id [101111].
DRINC. 2003. Water activity in food. Dairy Research and Information Center. http://www.drinc.ucdavis.edu/html/water activity in Food.html
Gauthama, P. 1998. Sifat fisik pakan lokal sumber energi, sumber mineral serta hijauan pada kadar air dan ukuran partikel yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan. IPB, Bogor.
Herrman, T. And G. Kuhl. 1997. Grain Grading Standars in Feed Manufacturing. MF2034. Kansas State University Research and Extension, Manhattan.
Herrman, T. 2001b. Evaluating Feed Component and Finished Feeds. MF2037. Kansas State University Research and Extension, Manhattan.
Khalil. 1999a. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap perubahan perilaku fisik bahan pakan lokal: Kerapatan Tumpukan, Kerapatan Pemadatan Tumpukan dan Berat Jenis. Media Peternakan vol.22, No. 1: 1-11.
Kalil. 1999b. Pengaruh kandungan air dan ukuran partikel terhadap perubahan perilaku fisik bahan lokal: Sudut Tumpukan, Daya Ambang, dan Faktor Higroskopis. Media Peternakan vol.22, no.1.
Kling, M. dan W. Woehlbier. 1983. Handelsfutter mittel, band 2A. Verlag Eugen Ulmer, Stuttgart.
Puslitbangnak. 2008. Bahan Pakan Ternak. www. Puslitbangnak.com [101111].
Rikmawati, W. 2005. Pengaruh subtitusi tepung ikan impor dengan corn gluten meal terhadap laju alir pakan pellet broiler finisher pada system produksi continous. Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Soesarsono. 1988. Teknologi Penyimpanan Komoditas Pertanian. Fakultas Teknologi Pangan. IPB. Bogor.
Sudarmadji, Slamet. 1996. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.
Sukria Ahmad Heri dan Rantan Krisna. 2009. Sumber dan Ketersediaan Bahan Baku Pakan di Indonesia.Bogor: IPB Press.
Supriyono. 2003. Melakukan Pengemasan Secara Manual. Proyek Pengembangan Sistem dan Standar Pengelolaan. Departemen Pendidikan Nasional.
Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.